Permasalahan Guru dalam Penerapan Kurikulum



Sebuah kelas tidak boleh sekedar diartikan sebagai tempat siswa berkumpul untuk mempelajari sejumlah ilmu pengetahuan. Demikian juga sebuah sekolah bukanlah sekedar sebuah gedung tempat murid mencari dan mendapatkan ilmu pengetahuan. Sekolah dan kelas diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam mendidik anak-anak, yang tidak hanya harus didewasakan dari aspek intelektualnya saja, akan tetapi dalam seluruh aspek kepribadiannya. Untuk itu bagi setiap tingkat dan jenis sekolah diperlukan kurikulum yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks dalam perkembangannya.
Kurikulum yang dipergunakan di sekolah sangat besar pengaruhnya terhadap aktivitas kelas dalam mewujudkan proses belajar mengajar yang berdaya guna bagi pembentukan pribadi siswa. Dengan kata lain aktivitas sebuah kelas sangat dipengaruhi oleh kurikulum yang dipergunakan di sekolah. Suatu kelas akan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat apabila kurikulum yang dipergunakan di sekolah dirancangkan sesuai dengan dinamika masyarakat. Sekolah yang kurikulumnya dirancangkan secara tradisional akan mengakibatkan aktivitas kelas berlangsung secara statis. Kurikulum tradisional diartikan sebga sejumlah materi pengetahuan dan kebudayaan hasil masa lalu yang harus dikuasai murid untuk mencapai suatu tingkat tertentu, yang dinyatakan dengan ketentuan kenaikan kelas atau pemberian ijazah kepada murid tersebut.
Di dalam kurikulum seperti itu mata pelajaran diberikan secara terpisah-pisah (subject certerd curriculum0 yang pada umumnya bersifat intelektualistis. Sekolah yang diselenggarkan dengan kurikulum modern pada dasarnya akan mampu menyelenggarakan kegiatan kelas yang bersifat dinamis. Kurikulum modern diartikan sebagai semua kegiatan yang berpengaruh pada pembentukan pribadi murid, baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas/sekolah, termasuk di dalamnya lingkungan sekitar yang bersifat non edukatif seperti warung sekolah, pesuruh, kondisi bangunan dan sarana sekolah lainnya, masjid/Gereja d an lain-lain. Kedua kurikulum tersebut di atas kurang serasi dengan kondisi masyarakat Indonesia yang memiliki pandangan hidup Pancasila. Di satu pihak kurikulum tradisional yang berpusat pada guru akan diwarnai dengan sikap otoriter yang mematikan inisiatif dan kreativitas murid.
Kurikulum itu tidak akan mampu memenuhi tuntutan pembentukan pribadi berdasarkan minat, bakat, kemampuan dan sifat-sifat kepribadian yang berbeda-beda. Antara murid yang satu dengan murid yang lain dalam satu kelas. Segala sesuatu yang menyangkut isi kurikulum untuk dilaksanakan di kelas sudah diatur dan ditetapkan oleh pihak instansi atasan, yang bahkan menutup kemungkinan guru mengembangkan kegiatan berdasarkan inisiatif dan krativitasnya sesuai dengan kebutuhan anak-anak dan masyarakat sekitar. Dipihak lain kurikulum modern yang menekankan pada perkembangan individu secara maksimal, akan mencerminkan kebebasan atas dasar demokrasi liberal sehingga tidak memungkinkan diselenggarakannya secara efektif kegiatan belajar secara klasikal untuk pengembangan pribadi sebagai makhluk sosial dan makhluk Tuhan Yang maha Esa.
Oleh karena itu diperlukan usaha mengintegrasikan kedua kurikulum tersebut dalam kehidupan lembaga pendidikan formal di Indonesia agar serasi dengan kebutuhan dan dinamika masyarakat. Kurikulum harus dirancang sebagai sejumlah pengalaman edukatif yang menjadi tanggungjawab sekolah dalam membantu anak-anak mencapai tujuan pendidikannya, yang diselenggarakan secara berencana, sistematik dan terarah serta terorganisir. Sekolah yang dirancang dengan kurikulum seperti itu, memungkinkan kegiatan kelas tidak sekedar dipusatkan pada penyampaian sejumlah materi pelajaran/pengetahuan yang bersifat intellectualistic, akan tetapi juga memperhatikan aspek pembentukan pribadi, baik sebagai makhluk individual dan makhluk sosial maupun sebagai makhluk bermoral.
Dengan kurikulum seperti disebutkan terakhir berarti isi pendidikan di dalam kegiatan kelas untuk setiap jenjang/tingkat sekolah harus dirancangkan sebagai berikut:
1.      Tingkat Taman Kanak-Kanak Kurikulum pada tingkat ini harus dirancang untuk memungkinkan kelas menyelenggarakan kegiatan agar anak-anak belajar bergaul, belajar mempergunakan alat-alat yang sederhana, memperoleh ketrampilan dasar atau tingkat permulaan dan dapat bekerja sama dalam bermain walaupun pada tingkat ini kecenderungan dalam bermain masih bersifat individual.
2.      Tingkat Sekolah Dasar Kurikulum pada tingkat ini pada tahap permulaan atau kelas-kelas rendah harus dirancangkan untuk memungkinkan kelas melanjutkan kegiatan-kegiatan atau program-program di taman kanak-kanak. Selanjutnya sesuai dengan kematangan anak-anak, secara bertahap kurikulum harus dengan kematangan anak-anak, secara bertahap kurikulum harus dikembangkan juga untuk mempelajari fakta-fakta pengetahuan yang sederhana, pengembangan kebiasaan berpikir secara kreatif dan pembentukan watak berdasarkan sistem nilai-nilai tertentu. Untuk itu dapat dilaksanakan berbagai kegiatan kelas baik yang dilakukan secara individual maupun secara bersama-sama.
3.      Sekolah Lanjutan/menengah Kurikulum pada tingkat ini harus dirancangkan untuk memungkinkan diselenggarakannya kegiatan kelas dalam memenuhi kebutuhan melakukan eksplorasi dan eksperimentasi guna memberikan pengalaman intelektual dan sosial yang terpadu dalam rangka realisasi diri.
4.       Tingkat Perguruan Tinggi Kurikulum pada tingkat ini dirancangkan untuk memungkinkan kelas menyelenggarakan kegiatan membantu perkembangan individual secara maksimal dalam rangka menguasai keahlian profesional tertentu.

Permasalahan Siswa dalam Pembelajaran SD



Setiap pembelajaran selalu terjadi masalah-masalah yang muncul, terutama yang ada pada peserta didik. Namun contoh-contoh masalah yang akan dibahas di bawah ini hanya mencakup pembelajaran di sekolah dasar.

2.1.1        Ramai sendiri
Masalah yang sering guru jumpai dalam pembelajaran salah satunya adalah murid berbuat ramai sendiri saat guru menerangkan pelajaran. Peristiwa ini menjadi sebuah masalah karena mengganggu teman di sekitarnya. Faktor yang membuat murid ramai sendiri adalah karena si anak mempunyai kesibukkan sendiri, seperti bermain mainan yang akan dimainkan waktu istirahat atau bermain mainan yang sudah dimainkan waktu istirahat namun belum puas.

2.1.2        Mengajak teman ramai
Selain ramai sendiri, tidak dipungkiri juga murid yang ramai sendiri tadi akan mengajak teman sebelahnya untuk ramai pula dengan diawali dari mencari perhatian terhadap teman sebelahnya. Jika sudah ada kecocokan interaksi maka dipastikan akan menjadi sebuah perbincangan di luar pelajaran yang akan mengganggu teman yang lainnya.

2.1.3        Tidak bisa diam di tempat
Ada pula murid yang selalu selalu berkeliling dari bangku satu ke bangku yang lain. Hal ini terjadi karena murid tersebut kurang nyaman di tempat duduknya atau kurang adanya rasa aman dari teman sebelahnya. Ketika murid berkeliling ini, tidak hanya mengganggu temannya saja, melainkan bisa pula mengganggu guru pula.

2.1.4        Sibuk bermain game
Semakin canggihnya teknologi di zaman sekarang maka berkembang pula berbagai jenis gadget yang menawarkan berbagai jenis hiburan, dan tidak dipingkiri pula salah satunya fasilitas untuk bermain game. Game saat ini memang sangat banyak jenisnya di kalangan anak-anak sekolah dasar, sehingga terkadang di kelas ditemukan murid yang bermain game dengan ponselnya (HP) atau play station portabel (PSP).

2.1.5        Membuat keributan
Selama proses belajar mengajar berlangsung sering kali dijumpai murid yang mengganngu temannya yang lain dengan berbagai cara, seperti melempar gulungan kertas, suka berbuat usil kepada temannya, sehingga temannya tidak konsentrasi lagi terhadap apa yang disampaikan oleh guru. Ini terjadi karena murid tersebut mempunyai ikatan emosional terhadap teman yang diganggu tersebut.

2.1.6        Melamun
Fenomena ini juga dapat dijumpai oleh guru di kelas ketika proses pembelajaran berlangsung. Ada murid yang kelihatannya mendengarkan tetapi pandangannya melukiskan pandangan kosong. Memang tidak ramai dan tidak pula mengganggu temannya, namun hal ini menjadi masalah karena dapat mengganggu jalannya proses pembelajaran.

2.1.7        Tidur di kelas
Kejadian tidur di kelas ini memang jarang ditemui di sekolah dasar, tetapi ada juga guru yang menemui masalah seperti ini di kelas terlebih lagi di sekolah-sekolah yang sistemnya full day. Hal ini juga sering dijumpai ketika gedung sekolah dibangun sehingga kelas harus dibagi menjadi masuk pagi dan siang. Tidak hanya itu, murid tidur itu karena rasa capek, kemungkinan juga karena mata pelajaran yang melibatkan gerakan atau olahraga yang berat atau mata pelajaran yang melibatkan banyak untuk berfikir juga dapat mengakibatkan murid tertidur setelah melakukan aktivitas tersebut. Hal ini sama dengan melamun tadi, tidak ramai dan mengganggu temannya, namun dapat menghambat proses pembelajaran yang akan disampaikan guru.

2.1.8        Keluar masuk kelas
Sering dijumpai pula murid yang keluar masuk kelas. Murid ini sering kali meminta izin ke kamar mandi ketika proses pembelajaran berlangsung. Kemungkinan murid yang seperti ini mengalami gangguan kesehatan yang mengharuskan sebentar-sebentar harus ke kamar mandi. Ada pula murid yang keluar masuk kelas dalam keadaan sehat. Kejadian yang seperti ini terjadi karena murid tersebut sudah mulai bosan di dalam kelas. Selain itu bisa juga karena temannya yang dilain kelas sudah menunggu di luar untuk mengajak bermain. Kejadian seperti ini menjadi masalah karena mengganggu jalannya pembelajaran apa lagi ketika guru mengadakan kerja kelompok.

2.1.9        Mudah tersinggung
Ada murid yang disinggung oleh temannya ketika proses pembelajaran berlangsung dan itu membuat murid tersebut merasa malu ataupun marah karena merasa aibnya dibeberkan, sehingga menimbulkan respon tersendiri bagi murid tersebut. Respon yang diberikan biasanya saling mengejek satu sama lain dan tidak dipungkiri pula akan terjadi pertengkaran. Murid yang mudah tersinggung ini biasanya tidak hanya melibatkan dua murid yang lain, namun dapat pula melibatkan banyak murid yang lainnya. Sehingga hal ini menjadi masalah dalam pembelajaran karena dapat mengganggu teman yang lain.

2.1.10    Kesulitan menangkap pelajaran
Masalah ini juga dapat dijumpai oleh guru di sekolah manapun. Ada beberapa murid yang kesulitan menangkap pelajaran sehingga membutuhkan pengulangan kembali dari guru. Masalah ini dapat ditemukan ketika guru memberikan soal dan menunjuk murid untuk mengerjakan soal tersebut, dan si murid yang ditunjuk tersebut belum bisa menjawab dengan cepat.

2.1.11    Nilai lebih rendah dari usahanya
Beberapa murid sekolah dasar pernah mengalami mendapatkan nilai rendah saat melaksanakan tes. Mereka merasa telah belajar dengan giat demi memperoleh nilai tinggi namun nilai yang didapat masih di bawah harapan awal, hal ini menjadi masalah karena dapat menurunkan mental belajar murid tersebut. Masalah ini terjadi bisa saja karena faktor daya ingatnya yang kurang.

2.1.12    Menyontek
Sering dijumpai juga di sekolah ada murid yang tidak mengerjakan tugas kemudian menyalin pekerjaan temannya, dan ketika ditanya mengenai tugas yang sama dia tidak bisa. Perlu guru ketahui kenapa murid yang seperti ini melakukan hal tersebut. Ada beberapa faktor murid mencontek tugas temannya, seperti kegiatan sore atau malam hari murid tersebut bagaimana, atau memang dia tidak bisa mengerjakan.

2.1.13    Merusak barang atau fasilitas sekolah
Murid yang merusak barang atau fasilitas sekolah umumnya adalah murid yang kurang mempunyai sifat tertib. Memang anak usia sekolah dasar secara psikis hari-harinya lebih dipakai untuk bermain, namun sering kali lupa tempat. Contohnya saja bermain bola di dalam kelas dan memecahkan kaca jendela, bermain yang menggunakan penggaris kayu dan akhirnya patah. Kejadian yang seperti ini.

2.1.14    Kurang sopan
Perilaku yang kurang sopan oleh murid terhadap guru yang sering muncul di sekolah dasar adalah duduk di meja ketika guru sedang menjelaskan di depan kelas, melepas pakaian di kelas, ada juga yang ketika diberi nasihat oleh guru murid tersebut malah membalas dengan meludah. Kejadian yang seperti ini dapat mengganggu proses pembelajaran pula.

2.1.15    Sering menyendiri
Masalah ini dapat dijumpai pada anak-anak yang kurang bisa bergaul dengan temannya. Perilaku ini juga dapat dijumpai pada anak yang merasa minder terhadap apa yang dialami oleh diri mereka. Karena murid yang mengalami hal tersebut merasa dirinya lebih bodoh dalam kelas atau sekolahannya. Jika tidak begitu bisa juga karena suatu masalah yang sedang dialami sehingga mengganggu kondisi psikologinya.

2.1.16    Suka mengadu
Kejadian seperti ini juga dapat dijumpai di sekolah dasar. Murid sering mengadu ketika merasa dirinya sedang diganggu oleh temannya di kelas, atau merasa kurangnya rasa aman dari gangguan teman yang suka jahil terhadapnya. Kejadian seperti ini dapat memperlambat proses pembelajaran pula.


Tujuan Sosio-Antropologi Pendidikan



2.1 Tujuan Sosiologi Pendidikan
Sosiologi pendidikan merupakan ilmu yang mempelajari hubungan antara individu dengan individu, individu dengan masyarakat, dan masyarakat dengan masyarakat. Berikut adalah beberapa tujuan dari sosiologi pendidikan :
1. Sebagai analisis proses sosialisasi
Francis Brown mengemukakan bahwa "Sosiologi pendidikan memperhatikan pengaruh keseluruhan lingkungan budaya sebagai tempat dan cara individu memperoleh dan mengorganisasikan pengalamannya".
2. Sebagai analisis kedudukan pendidikan dalam masyarakat
L.A. Cook mengutamakan fungsi lembaga pendidikan dalam masyarakat dan menganalisis hubungan sosial antara sekolah dengan berbagai aspek masyarakat, misalnya: penyelidikan tentang hubungan antara masyarakat pedesaan dengan sekolah rendah dan menengah atau meneliti fungsi sekolah berhubungan dengan struktur sosial dalam lingkungan masyarakat tertentu.
3. Sebagai analisis sosial di sekolah dan antara sekolah dengan masyarakat
Disini diusahakan menganalisis pola-pola interaksi sosial dan peranan sosial dalam masyarakat sekolah dan hubungan orang-orang didalam sekolah dengan kelompok-kelompok diluar sekolah.
4. Sebagai dasar menentukan tujuan pendidikan
Sejumlah ahli memandang bahwa sosiologi pendidikan sebagai alat untuk menganalisis tujuan pendidikan secara objektif dimana mencoba mencapai suatu filsafat pendidikan berdasarkan analisis masyarakat dan kebutuhan manusia.
5. Sebagai sosiologi terapan
Para ahli sosiologi pendidikan menggunakan segala sesuatu yang diketahui dalam bidang sosiologi dan pendidikan lalu memadukannya kedalam suatu ilmu baru dengan menerapkan prinsip-prinsip sosiologi kepada seluruh proses pendidikan.
6. Menganalisis perkembangan dan kemajuan sosial.
Banyak orang/pakar yang beranggapan bahwa pendidikan memberikan kemungkinan yang besar bagi kemajuan masyarakat, karena dengan memiliki ijazah yang semakin tinggi akan lebih mampu menduduki jabatan yang lebih tinggi pula (serta penghasilan yang lebih banyak pula, guna menambah kesejahteraan social). Disamping itu dengan pengetahuan dan keterampilan yang banyak dapat mengembangkan aktivitas serta kreativitas social.
7. Menganalisis partisipasi orang-orang terdidik/berpendidikan dalam kegiatan social.
Peranan/aktivitas warga yang berpendidikan / intelektual sering menjadi ukuan tentang maju dan berkembang kehidupan masyarakat. Sebaiknya warga yang berpendidikan tidak segan- segan berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial, terutama dalam memajukan kepentingan / kebutuhan masyarakat. Ia harus menjadi motor penggerak dari peningkatan taraf hidup sosial.

2.2 Tujuan Antropologi Pendidikan
Antropologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan analisis berdasarkan konsep-konsep dan pendekatan Antropologi. Tujuan mempelajari sosiologi pendidikan ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mempelajari sejarah terjadinya dan perkembangan manusia sebagai makhluk biologis.
2. Untuk mempelajari sejarah terjadinya berbagai bahasa manusia diseluruh dunia dan penyebarannya.
3. Untuk mempelajari masalah terjadinya persebaran dan perkembangan berbagai kehidupan diseluruh dunia.
4. Untuk mempelajari masalah dasar kebudayaan dalam kehidupan manusia dari suku-suku bangsa yang tersebar dimuka bumi sampai sekarang.

2.3 Keselarasan tujuan Sosiologi dan Antropologi Pendidikan
Objek kajian sosiologi adalah masyarakat, dan kita juga tahu masyarakat sudah pasti berkebudayaan, namun perlu diingat antara masyarakat dan kebudayaan tidak sama, tetapi berhubungan erat. Dalam hal ini masyarakat menjadi kajian pokok sosiologi dan kebudayaan menjadi kajian pokok antropologi. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa masyarakat lebih mendasar dan merupakan tanah dimana kebudayaan itu berpijak.
Dari masing-masing tujuan pembelajaran sosiologi pendidikan dan antropologi pendidikan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa tujuan dari sosio-antropologi pendidikan antara lain adalah agar kita :
  • ·   Dapat melihat dengan jelas siapa diri kita, baik sebagai pribadi maupun anggota kelompok atau masyarakat.
  •      Mampu mengkaji tempat kita dalam masyarakat dan dapat melihat dunia atau budaya lain yang belum kita ketahui sebelumnya.
  •    Semakin memahami norma, tradisi, keyakinan, dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat lain.
  •    Lebih tanggap, kritis dan rasional menghadapi gejala sosial masyarakat yang makin kompleks

Cara Menjadi Guru yang Disenangi Murid


Tentunya menjadi harapan dan keinginan semua guru untuk bisa disukai atau disenangi murid-muridnya. Pasti begitupun dengan Anda sebagai Bapak Ibu guru SD. Guru yang di senangi muridnya ada tanda khusus, yaitu selalu dinanti kehadiranya. Kalau dia belum hadir, muridnya akan berusaha mencari atau menanyakannya. Bukannya ada jam kosong murid membiarkannya, dan tidak peduli. Saat diajar, ketika jam berakhir murid masih merasa kurang, dan lain sebagainya.

Menjadi guru yang disukai juga bukan berarti menuruti semua yang murid mau atau inginkan. Karena jika guru menuruti semua keinginan murid bisa jadi malah membuat keluar dari tujuan dan kegiatan proses belajar mengajar. Lalu bagaimana cara menjadi guru yang disenangi murid-muridnya? Inilah tipsnya:

1. Mengunakan metode pembelajaran yang bervariatif dan menyenangkan. Setiap materi memiliki cara penyampaiaan yang beragam. Guru jangan hanya terpaku dengan satu metode saja, misalnya hanya ceramah. Juga gunakan metode yang menyenangkan, yaitu yang membuat murid aktif dan melakukan sendiri.

2. Guru yang mampu menciptakan kondisi belajar mengajar yang kondusif. Guru yang menguasai materi dan menyampaikannya dengan enak dan mudah dipahami murid. Dan guru yang memberikan penilaian yang obyektif.

3. Guru yang humoris. Jika ditanya, guru yang seperti apa yang paling disukai murid? Hampir pasti kebanyakkan adalah guru yang humoris. Tentu dengan candaan dan humor membuat belajar lebih menyenangkan. Tetapi bukan berarti humor yang menyinggung kekurangan muridnya, melainkan humor pada tempat dan saat yang tepat.

4. Guru yang memberikan hak dan kebutuhan muridnya. Murid juga memiliki hak yang harus dipenuhi oleh gurunya, misalnya hak bertanya dan mendapatkan jawaban yang tepat. Dan juga guru yang senangi adalah guru yang memberikan kebutuhan siswa, baik itu kebutuhan akan karakter dan perkembangannya ataupun kebutuhan untuk dihargai.

5. Guru yang menjaga wibawa, selain menciptakan hubungan yang harmonis dengan muridnya, guru juga harus menjaga wibawanya. Itu tercermin dari tingkah laku atau sikap di dalam kelas atau di luar kelas.

6. Guru yang mampu menjadi contoh atau suri tauladan. Semakin lama semakin berkurang sosok panutan, guru harus tetap bisa menjadi contoh untuk murid-muridnya. Tidak hanya pandai berbicara tetapi juga mampu mempraktekannya.

7. Guru yang selalu berpenampilan menarik dan murah senyum serta sabar. Menjaga penampilan yang menarik, rapi membuat murid merasa betah dengan guru. Begitupun dengan senyum, murid yang yang ‘bermasalah/nakal’ akan luntur dan akan menyukai guru yang suak senyum dengan tulus dan sabar.

8. Guru yang mendidik dengan hati dan menginspirasi. Mendidik atau mengajar bukan hanya dianggap sebagai pekerjaan atau profesi, lebih dari itu juga dimaknai sebagai pengabdian dan ibadah. Murid bukan hanya sebagai obyek, tetapi juga insan seperti anak, yang tidak hanya dididik juga didoakan.

Itulah beberapa tips atau cara agar bisa menjadi guru yang disenangi murid-muridnya. Apakah Bapak Ibu punya pengalaman dan masukan untuk menjadi guru yang disenangi muridnya? Agar proses belajar mengajar bisa lebih bermakna. Di setiap akhir tahun ajaran, bisa meminta masukan dari murid, menurutnya apa saja kekurangan kita sebagai guru dan apa yang mereka inginkan.

Cara Meningkatkan Konsentrasi Belajar


Berikut adalah beberapa cara atau tips yang bisa dipraktekan untuk meningkatkan konsentrasi belajar:

1. Menyisipkan cerita
Anak-anak suka dengan cerita, kita bisa menyisipkan cerita ketika sedang mengajar, tentu cerita yang disampaikan berkaitan dengan materi yang diajarkan. Anak akan mengingat jalannya cerita bersamaan dengan materi yang dipelajarinya.

2. Membuat permainan
Membuat permainan yang membutuhkan konsentrasi anak. Beberapa contoh permainan yang bisa membantu meningkatkan konsentrasi contohnya: Anak-anak diminta berhitung secara berurutan, nanti setiap anak yang mendapatkan giliran menyebutkan misalnya kelipatan 5 harus bilang "Yes", jika ada anak yang salah mendapatkan hukuman yang mendidik. Bapak Ibu sudah pernah mencoba jenis permainan ini?

3. Menggunakan media dan metode pembelajaran yang menarik
Penting sekali, khususnya untuk anak-anak SD menggunakan media pembelajaran yang menarik yang sesuai dengan materi yang dipelajari. Serta menggunakan metode pembelajaran yang bervariatif yang bisa bisa membuat anak lebih aktif untuk belajar dan menemukan pengetahuan baru. Penggunaan media pembelajaran dan metode pembelajaran yang menarik bisa membantu anak untuk lebih berkonsentrasi.

4. Mengadakan tanya jawab setelah materi selesai diajarkan
Setelah materi yang guru ajarkan pada anak selesai, guru dapat mengadakan tanya jawab. Selain cara ini bisa untuk mengetahui sejauh mana anak menerima pelajaran, dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru dapat membuat anak untuk berpikir kembali, mengingat apa yang sudah mereka dapatkan tadi.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | SharePoint Demo
SELAMAT DATANG DI SITUS CORETAN SEADANYA